BRMP Aceh Panen Benih Jagung Jakarin dan Bisma Mutu Tinggi di Saree
ACEH – Tim Pelaksana Kegiatan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Jagung Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh menggelar panen raya jagung bersama Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Aceh, ketua kelompok tani, serta petani pelaksana, Herry Hanandaka, pada Kamis (31/8/2026). Panen ini menjadi puncak dari masa budidaya yang telah berlangsung secara intensif selama 4 bulan.
Acara dibuka dengan sambutan dari Penanggung Jawab Kegiatan UPBS Jagung BRMP, Didi Darmadi. Dalam penyampaiannya, Didi Darmadi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat, khususnya para petani pelaksana di lapangan. Ia menegaskan bahwa program UPBS ini dirancang untuk memastikan ketersediaan benih jagung berkualitas tinggi secara berkelanjutan dan memperkuat kemandirian benih di kawasan setempat.
Pada panen kali ini, varietas jagung yang berhasil dipetik adalah Jakarin dan Bisma. Hasil pengukuran awal di lapangan menunjukkan kadar air jagung berada pada angka 15%. Untuk memenuhi standar sertifikasi mutlak dari BPSB, jagung tersebut akan diproses lebih lanjut hingga mencapai tingkat kadar air target sebesar 11%.
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari BPSB yang hadir, Amrullah menyampaikan arahan mengenai tahapan penanganan pascapanen agar kualitas benih tetap terjaga sesuai standar mutu pengujian. Adapun Standar Perlakuan Pascapanen yang harus dilaksanakan, berupa: Penyeragaman Pemipilan: Benih yang dipipil diwajibkan melalui proses pengayakan agar memiliki ukuran yang seragam saat dibawa ke laboratorium; Dan Pengeringan Terkontrol: Penjemuran dilakukan secara cermat hingga kadar air menyentuh batas aman 11%; Jaminan Distribusi Benih Unggul: Hanya benih yang lolos kualifikasi mutu unggul yang disalurkan kepada petani pengguna.
Amrullah juga menyoroti kondisi riil kebutuhan lapangan. Dengan keberhasilan produksi benih varietas Jakarin dan Bisma melalui kegiatan penangkaran ini, pengadaan benih jagung di tingkat kabupaten/kota diharapkan dapat ditopang secara mandiri oleh benih lokal hasil produksi UPBS.